Sab. Feb 23rd, 2019

Dwibahasa: Bahasa Aceh tidak penting lagi, zaman milenial

Manusia telah bermigrasi sejak zaman prasejarah–bergerak di dalam dan di luar batas geografis–untuk mencari makanan dan bertahan hidup atau untuk mencari prospek yang lebih baik dalam kehidupan. Di Uni Eropa sendiri, angka terbaru menunjukkan bahwa pada 2016 lebih dari 4 juta orang berimigrasi ke negara-negara Uni Eropa, sementara setidaknya 3 juta orang meninggalkan negara anggota Uni Eropa.

Pergi ke luar negeri bukan tanpa tantangan. Selain menyiapkan dokumen migrasi dan menyesuaikan diri di tempat baru, terdapat juga masalah bahasa yang dihadapi–bahasa yang Anda gunakan sekarang dan yang perlu Anda kuasai agar dapat diterima di negara baru. Bagi banyak migran yang memulai kehidupan baru, mempertahankan bahasa warisan mereka–bahasa yang dengannya mereka memiliki ikatan historis–dan mewariskannya kepada anak-anak dapat menjadi sebuah tantangan.

Untuk mencapai prestasi akademis dan profesional, banyak keluarga migran tahu bahwa kecakapan mereka dalam bahasa dominan di negara baru–dan bukan bahasa warisan mereka–yang penting. Jadi di negara-negara yang mayoritas berbahasa Inggris seperti Amerika Serikat dan Inggris, ketika para orangtua imigran mendorong anak-anak untuk menggunakan bahasa Inggris dan mengabaikan bahasa warisan mereka, mereka hanya menyesuaikan diri dengan sistem yang ada yang mengaitkan kemampuan bahasa Inggris dengan keberhasilan pendidikan dan profesional.

Ini berarti bahwa bahasa warisan tidak selalu secara aktif dipromosikan di dalam rumah atau komunitas migran. Dan selama beberapa generasi, bahasa-bahasa ini bahkan dapat digantikan oleh bahasa dominan di negara baru. Penelitian menunjukkan bahwa di negara-negara berbahasa Inggris yang dominan, komunitas migran yang secara substansial besar–seperti masyarakat Cina, India, dan Sri Lanka–mengalami pergeseran dari bahasa warisan ke bahasa Inggris.

Tetap terhubung

Tapi situasinya tidak harus seperti ini. Sebagai contoh, komunitas Malayali (etnis dari India) di Inggris yang mempraktikkan bahasa asal, yang saya teliti selama tiga tahun untuk penelitian PhD. Migran generasi pertama, orang tua, dibesarkan dan telah menyelesaikan pendidikan formal mereka di Kerala, di daerah barat daya India.

Pada saat penelitian saya, semua orang tua Malayali bekerja dan anak-anak mereka–beberapa lahir di Inggris dan yang lain di luar negeri–dididik dan dibesarkan di Inggris. Percakapan mereka di rumah (yang dicatat sebagai bagian dari penelitian saya) menunjukkan bagaimana orang tua dan keluarga besar memainkan peran kunci dalam membantu anak-anak untuk belajar dan mempraktikkan bahasa warisan mereka, Malayalam.

Orang tua Malayali menjunjung tinggi kekeluargaan: ditunjukkan dengan kunjungan tahunan dan panggilan telepon setiap hari ke keluarga besar di India. Untuk tetap terhubung dengan cara ini, anak-anak Malayali di Inggris harus menggunakan Malayalam, bahasa yang paling disukai dan paling sering digunakan oleh keluarga mereka.

Dua bahasa

Anju adalah salah satu dari beberapa anak Malayali yang suaranya sering terekam dalam percakapan telepon rekaman audio antara keluarga dekat dan kerabatnya. Lahir di India, Anju pindah ke Inggris pada usia tiga tahun bersama keluarganya. Dia menghadiri pembelajaran pra-sekolah dan pada saat mingrasi baru saja mulai belajar alfabet Malayalam. Sejak pindah, Anju tidak menerima instruksi formal dalam bahasa tersebut. Meski hanya terpapar Malayalam di Kerala secara singkay, Anju, yang berusia delapan tahun pada saat penelitian, menggunakan bahasa itu dengan mudah ketika berbicara dengan kerabatnya.

Mirip dengan Anju, Priti yang berusia enam tahun, juga bisa menggunakan Malayalam ketika diminta untuk melakukannya. Lebih muda dari anak keluarga Malayali lainnya, Priti lahir di Inggris dan tidak memiliki pengasuhan atau pemaparan bahasa ke Malayalam di India. Tapi dia memiliki pengetahuan yang cukup tentang bahasa yang memungkinkannya berinteraksi dengan keluarga besarnya. Mendukung pengamatan saya tentang Priti, ini kata-kata ibunya Deepa:

Di bawah ancaman

Dalam penelitian saya, banyak interaksi yang terjadi antara orang tua dan anak-anak adalah dwibahasa–dan tampaknya dorongan halus orang tua untuk berbahasa Malayalam pada umumnya diterima dengan baik oleh anak-anak.

Hal ini terutama karena di dalam rumah-rumah Malayali ini ada peluang bagi anak-anak, seperti panggilan telepon sehari-hari dengan kerabat, untuk menguji dan membangun pengetahuan mereka tentang Malayalam. Hal ini membuat anak-anak lebih jauh terpapar pada bahasa tersebut dan membantu mereka untuk tetap terhubung dengan keluarga besar.

Hal ini merupakan bukti bahwa bagi keluarga migran, rumah tetap merupakan lingkungan yang baik untuk pelestarian bahasa. Dan mengingat bahwa bahasa dikatakan menghilang lebih cepat dari spesies yang terancam punah–dengan satu bahasa mati setiap dua minggu–untuk itu penting bahwa bahasa warisan terus dituturkan.

Berikan komentar